H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Membedah Perbedaan Mendasar Antara Pencitraan dan Publikasi Kegiatan
Nasional

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Membedah Perbedaan Mendasar Antara Pencitraan dan Publikasi Kegiatan

April 14, 2026 2 min read
CMS Profile
Published on April 14, 2026
Last updated: Apr 14, 2026
H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Membedah Perbedaan Mendasar Antara Pencitraan dan Publikasi Kegiatan

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Membedah Perbedaan Mendasar Antara Pencitraan dan Publikasi Kegiatan

Pentingnya Transparansi Informasi demi Membangun Kepercayaan Publik yang Berkelanjutan

JAKARTA, 14 APRIL 2026 – Dalam dinamika komunikasi publik saat ini, batas antara menyampaikan informasi dan membangun citra sering kali menjadi kabur. Namun, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Waketum DPN PERADI), H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, memberikan penjelasan tegas mengenai perbedaan mendasar antara publikasi kegiatan dan pencitraan.

 

Menurut H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, publikasi kegiatan adalah sebuah kewajiban dan bentuk tanggung jawab organisasi atau lembaga.

 

"Publikasi kegiatan itu adalah bagian dari transparansi dan akuntabilitas. Kita memberitahu apa yang sudah dikerjakan, apa hasilnya, dan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat atau anggota. Fokusnya adalah pada substansi kerja, data, dan fakta. Ini adalah hak publik untuk tahu," ujar H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, Wakil Ketua Umum DPN PERADI.

 

Lebih lanjut dijelaskan oleh H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, publikasi yang sehat menempatkan kegiatan sebagai inti cerita, bukan individu semata.

 

Pencitraan: Gaya di Atas Substansi

 

Berbeda halnya dengan publikasi, H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si menegaskan bahwa pencitraan memiliki orientasi yang jauh berbeda.

 

"Sedangkan pencitraan itu lebih kepada upaya membangun kesan baik secara artifisial. Fokusnya bergeser dari kegiatan menjadi personal. Yang ditonjolkan adalah penampilan, popularitas, dan bagaimana terlihat hebat di mata orang lain, meskipun realitas kerja di lapangan belum tentu sejalan dengan yang ditampilkan," tegas H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si.

 

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si menambahkan, pencitraan sering kali mengedepankan gaya di atas isi. Konten yang dibuat cenderung berlebihan, memoles fakta, dan hanya bertujuan memuaskan ego atau kepentingan sesaat.

 

Jangan Tertipu Tampilan

 

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si juga mengingatkan agar masyarakat dan publik dapat lebih kritis dalam menyaring informasi.

 

"Publikasi yang jujur akan membangun kepercayaan yang kuat dan langgeng. Sedangkan pencitraan hanya memberikan efek sesaat. Publik sekarang sudah cerdas, mereka bisa membedakan mana yang benar-benar bekerja dan mana yang sekadar ingin dilihat bekerja," pungkas H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, Wakil Ketua Umum DPN PERADI.

 

Pernyataan ini menjadi penting agar setiap organisasi dapat memegang prinsip komunikasi yang berintegritas, faktual, dan menjauhi praktik-praktik yang hanya mengutamakan tampilan tanpa makna.(red)

Related Articles

Chat with us on WhatsApp